WE ARE KOPITES, WE ARE NOT LIVERPUDLIAN !!!!!!!
Ayo dibaca kawan-kawan dari wall grup BIGREDS IOLSC Regional Bandung. Berawal dari postingan teh Dhini Renata yang mengoreksi kesalahan penggunaan istilah Liverpudlian untuk menyebut pendukung LFC, diskusi kemudian berkembang menjadi suatu pembahasan yang menyeluruh tentang kata Liverpudlian itu sendiri. Albert Shadrach, salah seorang member BIGREDS pun urun informasi yang ke
mudian menjadi ide awal dibuatnya dokumen ini. Diharapkan dokumen ini dapat memberikan pengetahuan yang baik bagi anggota grup ini.Berikut adalah kutipan informasi dari bung Albert dengan sedikit penyesuaian alinea :LIVERPUDLIAN ADALAH BERARTI WARGA KOTA LIVERPOOL. Tidak ada satupun quotes/ merchandises/chants/ yells resmi LFC yg menyebutkan kata “Liverpudlian” yang merujuk kepada arti → supporter. Dan supporter LFC disebut KOPITE (dibaca: Kopayt), sedangkan bentuk jamaknya adalah KOPITES (dibaca: Kopayts). Lantas dari manakah semua kesalah-kaprahan ini berasal?
Dalam chant “Poor Scouser Tommy”, ada lyrics: “Oh, I am a Liverpudlian. And I come from The Spion Kop”. Inilah awal mula kesalah-kaprahan tersebut di INDONESIA.
Apa? Di Indonesia?
Ya, benar, hanya di Indonesia saja kita mendengar pendukung LFC menyebut diri Liverpudlian. Di negara lain tak ada yang salah kaprah, mereka menyebut diri mereka KOPITES. Adapun makna dari lyrics tadi: si Tommy ini adalah prajurit Inggris yang dikirim ke Libya saat Perang Dunia II. Dan disetiap Dog Tag akan tertera dari Divisi manakah dia, dan dicantumkanlah bahwa dia berasal dari divisi di kota Liverpool. Itulah sebabnya sebelum tewas, dia berkata bahwa dia adalah seorang Liverpudlian (warga kota Liverpool). Namun, kecintaannya terhadap LFC membuat Tommy yang sedang sekarat pun tetap bangga mengaku sebagai seorang KOPITE (supporter LFC), dengan berkata bahwa dia tak hanya sebagai warga kota Liverpool semata, melainkan dia berasal dari The Spion Kop
The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield yang paling bawel ngchants pada saat itu).
Dengan keterbatasan informasi di Indonesia, terutama di era 1970 – awal 1980 an dimana kaum muda hanya mengenal sepakbola luar negeri melalui Dunia Dalam Berita, dan pertandingan final sepakbola hanya sesekali ditayangkan secara langsung oleh TVRI di pertengahan 1980 an, ditambah dengan lebih mudahnya menghafal kata Liverpudlian (karena memiliki susunan huruf yang mendekati Liverpool) dibandingkan “Kopites”, dan ditambah dengan tingkat kesalah-kaprahan yang tinggi didalam penggunaan kata di masyarakat Indonesia, membuat penyebaran kesalahan makna “Liverpudlian” ini menjadi semakin cepat, dan malah menggeser Kopites sebagai istilah yang benar. Apalagi kemudian diperparah pula dengan watak kita semua yang “udah salah, ngotot pula”. Dan juga watak “membiarkan kesalahan berlanjut karena gak mau repot”, dan juga watak “berkelakar-bercanda diseputar kesalahan”.
Akhirnya pada saat pertengahan 1990 an dimana persaingan TV Swasta mulai merebak, mengakhiri kejayaan tunggal RCTI dengan Decoder-nya, maka muncullah ide untuk menayangkan secara langsung pertandingan sepak bola Liga Inggris oleh salah satu Direktur Utama TV saat itu. Dan si presenter pertandingan di TV Indonesia kerap menyebut kata “Liverpudlian” saat dia berceloteh mengenai supporter LFC.
Pengaruh media sangatlah luas, dan akhirnya mencuci otak para anak muda yang rata2 SMA atau baru masuk kuliah saat era pertengahan 1990 an itu. Mereka2 ini kerap berkumpul sepulang kuliah dan akhirnya semakin meluas pula kesalahan penggunaan kata “Liverpudlian” ini. Saat bertemu orang lain yang menggunakan t-shirt/ atribut LFC, akan dengan ramah disapa: “oh, kamu Liverpudlian juga yah?” yang semakin membuat penggunaan ngaco ini berlanjut. Hingga puncaknya adalah Twitter dimasa kini.
Lantas, dari manakah istilah KOPITES itu berasal?
Ya, tepat. Rujukan kata itu bersumber dari THE KOP, atau The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield). Awalnya, penggunaan istilah Kopites ini disematkan kepada orang2 keturunan Scandinavia, terutama buruh-buruh kapal Norwegia, yang banyak berlabuh di Liverpool. Mereka ini lebih kasar, pemabuk, namun lebih “garis keras” dalam mendukung tim sepakbola (saat itu Everton lebih diminati oleh Liverpudlian — warga kota Liverpool –dibandingkan tim sekota yg baru muncul, LFC). Sedangkan penggunaan istilah The Kop ini bersumber dari penghargaan terhadap prajurit korban Second Boer War, dimana banyak prajurit Inggris yang tewas berasal dari kota Liverpool.
Nah, pada perkembangannya, LFC tampak lebih menarik untuk disimak, sehingga para Liverpudlian (warga kota Liverpool) mulai menyematkan istilah KOPITES kedalam diri mereka, karena mereka turut melebur kedalam suasana mendukung LFC. Dan seiring dengan perjalanan waktu, sejarah demi sejarah ditorehkan oleh LFC, akhirnya muncullah sebutan bagi para supporter LFC yang non – Liverpudlian, bukan warga kota Liverpool, dengan sebutan WOOLS.
Julukan ini “sedikit” bernada merendahkan, dalam artian: Wools hanya bisa mendukung lewat TV di negaranya, tak hadir disetiap pertandingan kandang di Anfield, atau tak nongkrong rutin di THE ALBERT (Pub diseberang The Kop). Para pendukung LFC (Kopites) notabene kini merupakan Liverpudlian (warga kota) dan tak lagi buruh kapal luar negeri, bahkan sebagian besar merupakan SCOUSER (sub-race/ suku bangsa berlogat). Sehingga saat kejayaan LFC berimbas ke dunia luas, maka penggunaan julukan “Wools” bagi supporter LFC non warga kota Liverpool pun semakin luas. DAN JIKA KALIAN MASIH NGOTOT MENGGUNAKAN ISTILAH “LIVERPUDLIAN” saat kalian nanti ke Anfield, maka bersiaplah untuk diejek oleh beberapa oknum Kopites yang mabuk.
Biasanya mereka langsung mengenali kita sebagai tourist (turis), mereka akan ramah menyapa kita, dan jika kalian memang cinta LFC, maka katakanlah: “I am a Liverpool FC Kopite too, by the way”, dan mereka akan semakin ramah dan akrab, menyapamu dengan jawaban: “Oh, so you are a Wool, glad to hear that. It’s ring a bell for sure. Another pin, mate?”.
Tapi bayangkanlah jika kesalah-kaprahan penggunaan “Liverpudlian” ini terjadi, maka mereka akan langsung mengenali logat English kalian yang jelas2 sangat tidak ber-scouser, dan mereka (jika mabuk) akan mengejekmu meminta kalian mengeluarkan ID Card (Kartu Tanda Penduduk) kota Liverpool.
Kesalahkaprahan penggunaan kata didalam bahasa Indonesia, dan serapan bahasa asing kedalam Bahasa Indonesia sangatlah mudah ditolerir. Dan sebagai sesama KOPITES, tentunya para Liverpudlian (warga kota Liverpool) — jika bukan oknum yang sedang mabuk — akan melayani kita dengan ramah, apalagi status kita sebagai tourist, sebagai Wools (pendukung LFC yg berasal dari luar kota Liverpool, bahkan luar negeri).
Akhirnya, demi untuk menjalin silaturahmi, JIKA KAMU BERTANYA seperti ini: “Saya pendukung LFC, tapi saya bukan warga kota Liverpool. Apakah saya boleh menyebut diri saya sebagai seorang Liverpudlian?”, maka karena keramahan mereka, para orang kota Liverpool ini akan menjawab: “Oh, tentu saja boleh” untuk menghargai perkenalan kalian. Inilah yang kemudian menyebabkan EVOLUSI BAHASA. Penggemar LFC di Indonesia sangatlah banyak, dan hampir semuanya menyebut mereka sebagai Liverpudlian, dan bukan Kopites. Please jangan menyebut kalian sebagai Wools, secara itu adalah “ejekan tidak langsung”. Dan ditambah pula dengan adanya istilah EVERTONIAN bagi fans Everton FC dikalangan para Liverpudlian (warga kota Liverpool). Akhirnya, penyematan label “Liverpudlian” menjadi sangat maklum dikalangan para tourist. Dalam bahasa sinisnya, para Kopites akan “yaaaaaaaa, yaaaaaaaa, whatever” jika kalian mengaku2 sebagai Liverpudlian (padahal maksudnya adalah sebagai Kopites).
Saking dimaklum-nya, akhirnya menjadi semakin maklum, kesalah-kaprahan semakin berlanjut, dan bahkan “dicantumkan” oleh seseorang (non Scouser) kedalam kamus tak resmi LFC bahwa → Liverpudlian adalah warga kota Liverpool, namun karena ada Evertonian (pendukung EFC), maka Liverpudlian juga dapat bermakna sebagai fans (penggemar) LFC. Ingat, fans … PENGGEMAR, dan bukan seperti KOPITES yang bermakna sebagai SUPPORTER/ pendukung.
Berdasarkan penjelasan tadi, maka kita semua semakin cerdas, sadar, dan mengerti. Ini bukan mengenai “setuju atau tidak setuju”. Ini bukan mengenai “toleransi atau alibi tidak diterima”. Ini mutlak mengenai kebiasaan salah kaprah didalam penggunaan bahasa asing.
Ingat, budaya sepakbola di Inggris JAUUUUUHH melebihi budaya sepakbola di negara lain. Tak perlu disangkal, karena semua orang sudah tau siapakah bangsa pendiri olah raga yang satu ini.
KESALAH-KAPRAHAN PENGGUNAAN BAHASA AKAN TERUS BERLANJUT DAN MENYEBAR, tinggal dari diri kalian, apakah kalian ingin semakin cerdas, atau kalian membandel dan ngotot dan tidak mau semakin mencerahkan pengetahuan.
Ayo dibaca kawan-kawan dari wall grup BIGREDS IOLSC Regional Bandung. Berawal dari postingan teh Dhini Renata yang mengoreksi kesalahan penggunaan istilah Liverpudlian untuk menyebut pendukung LFC, diskusi kemudian berkembang menjadi suatu pembahasan yang menyeluruh tentang kata Liverpudlian itu sendiri. Albert Shadrach, salah seorang member BIGREDS pun urun informasi yang ke
mudian menjadi ide awal dibuatnya dokumen ini. Diharapkan dokumen ini dapat memberikan pengetahuan yang baik bagi anggota grup ini.Berikut adalah kutipan informasi dari bung Albert dengan sedikit penyesuaian alinea :LIVERPUDLIAN ADALAH BERARTI WARGA KOTA LIVERPOOL. Tidak ada satupun quotes/ merchandises/chants/ yells resmi LFC yg menyebutkan kata “Liverpudlian” yang merujuk kepada arti → supporter. Dan supporter LFC disebut KOPITE (dibaca: Kopayt), sedangkan bentuk jamaknya adalah KOPITES (dibaca: Kopayts). Lantas dari manakah semua kesalah-kaprahan ini berasal?
Dalam chant “Poor Scouser Tommy”, ada lyrics: “Oh, I am a Liverpudlian. And I come from The Spion Kop”. Inilah awal mula kesalah-kaprahan tersebut di INDONESIA.
Apa? Di Indonesia?
Ya, benar, hanya di Indonesia saja kita mendengar pendukung LFC menyebut diri Liverpudlian. Di negara lain tak ada yang salah kaprah, mereka menyebut diri mereka KOPITES. Adapun makna dari lyrics tadi: si Tommy ini adalah prajurit Inggris yang dikirim ke Libya saat Perang Dunia II. Dan disetiap Dog Tag akan tertera dari Divisi manakah dia, dan dicantumkanlah bahwa dia berasal dari divisi di kota Liverpool. Itulah sebabnya sebelum tewas, dia berkata bahwa dia adalah seorang Liverpudlian (warga kota Liverpool). Namun, kecintaannya terhadap LFC membuat Tommy yang sedang sekarat pun tetap bangga mengaku sebagai seorang KOPITE (supporter LFC), dengan berkata bahwa dia tak hanya sebagai warga kota Liverpool semata, melainkan dia berasal dari The Spion Kop
The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield yang paling bawel ngchants pada saat itu).
Dengan keterbatasan informasi di Indonesia, terutama di era 1970 – awal 1980 an dimana kaum muda hanya mengenal sepakbola luar negeri melalui Dunia Dalam Berita, dan pertandingan final sepakbola hanya sesekali ditayangkan secara langsung oleh TVRI di pertengahan 1980 an, ditambah dengan lebih mudahnya menghafal kata Liverpudlian (karena memiliki susunan huruf yang mendekati Liverpool) dibandingkan “Kopites”, dan ditambah dengan tingkat kesalah-kaprahan yang tinggi didalam penggunaan kata di masyarakat Indonesia, membuat penyebaran kesalahan makna “Liverpudlian” ini menjadi semakin cepat, dan malah menggeser Kopites sebagai istilah yang benar. Apalagi kemudian diperparah pula dengan watak kita semua yang “udah salah, ngotot pula”. Dan juga watak “membiarkan kesalahan berlanjut karena gak mau repot”, dan juga watak “berkelakar-bercanda diseputar kesalahan”.
Akhirnya pada saat pertengahan 1990 an dimana persaingan TV Swasta mulai merebak, mengakhiri kejayaan tunggal RCTI dengan Decoder-nya, maka muncullah ide untuk menayangkan secara langsung pertandingan sepak bola Liga Inggris oleh salah satu Direktur Utama TV saat itu. Dan si presenter pertandingan di TV Indonesia kerap menyebut kata “Liverpudlian” saat dia berceloteh mengenai supporter LFC.
Pengaruh media sangatlah luas, dan akhirnya mencuci otak para anak muda yang rata2 SMA atau baru masuk kuliah saat era pertengahan 1990 an itu. Mereka2 ini kerap berkumpul sepulang kuliah dan akhirnya semakin meluas pula kesalahan penggunaan kata “Liverpudlian” ini. Saat bertemu orang lain yang menggunakan t-shirt/ atribut LFC, akan dengan ramah disapa: “oh, kamu Liverpudlian juga yah?” yang semakin membuat penggunaan ngaco ini berlanjut. Hingga puncaknya adalah Twitter dimasa kini.
Lantas, dari manakah istilah KOPITES itu berasal?
Ya, tepat. Rujukan kata itu bersumber dari THE KOP, atau The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield). Awalnya, penggunaan istilah Kopites ini disematkan kepada orang2 keturunan Scandinavia, terutama buruh-buruh kapal Norwegia, yang banyak berlabuh di Liverpool. Mereka ini lebih kasar, pemabuk, namun lebih “garis keras” dalam mendukung tim sepakbola (saat itu Everton lebih diminati oleh Liverpudlian — warga kota Liverpool –dibandingkan tim sekota yg baru muncul, LFC). Sedangkan penggunaan istilah The Kop ini bersumber dari penghargaan terhadap prajurit korban Second Boer War, dimana banyak prajurit Inggris yang tewas berasal dari kota Liverpool.
Nah, pada perkembangannya, LFC tampak lebih menarik untuk disimak, sehingga para Liverpudlian (warga kota Liverpool) mulai menyematkan istilah KOPITES kedalam diri mereka, karena mereka turut melebur kedalam suasana mendukung LFC. Dan seiring dengan perjalanan waktu, sejarah demi sejarah ditorehkan oleh LFC, akhirnya muncullah sebutan bagi para supporter LFC yang non – Liverpudlian, bukan warga kota Liverpool, dengan sebutan WOOLS.
Julukan ini “sedikit” bernada merendahkan, dalam artian: Wools hanya bisa mendukung lewat TV di negaranya, tak hadir disetiap pertandingan kandang di Anfield, atau tak nongkrong rutin di THE ALBERT (Pub diseberang The Kop). Para pendukung LFC (Kopites) notabene kini merupakan Liverpudlian (warga kota) dan tak lagi buruh kapal luar negeri, bahkan sebagian besar merupakan SCOUSER (sub-race/ suku bangsa berlogat). Sehingga saat kejayaan LFC berimbas ke dunia luas, maka penggunaan julukan “Wools” bagi supporter LFC non warga kota Liverpool pun semakin luas. DAN JIKA KALIAN MASIH NGOTOT MENGGUNAKAN ISTILAH “LIVERPUDLIAN” saat kalian nanti ke Anfield, maka bersiaplah untuk diejek oleh beberapa oknum Kopites yang mabuk.
Biasanya mereka langsung mengenali kita sebagai tourist (turis), mereka akan ramah menyapa kita, dan jika kalian memang cinta LFC, maka katakanlah: “I am a Liverpool FC Kopite too, by the way”, dan mereka akan semakin ramah dan akrab, menyapamu dengan jawaban: “Oh, so you are a Wool, glad to hear that. It’s ring a bell for sure. Another pin, mate?”.
Tapi bayangkanlah jika kesalah-kaprahan penggunaan “Liverpudlian” ini terjadi, maka mereka akan langsung mengenali logat English kalian yang jelas2 sangat tidak ber-scouser, dan mereka (jika mabuk) akan mengejekmu meminta kalian mengeluarkan ID Card (Kartu Tanda Penduduk) kota Liverpool.
Kesalahkaprahan penggunaan kata didalam bahasa Indonesia, dan serapan bahasa asing kedalam Bahasa Indonesia sangatlah mudah ditolerir. Dan sebagai sesama KOPITES, tentunya para Liverpudlian (warga kota Liverpool) — jika bukan oknum yang sedang mabuk — akan melayani kita dengan ramah, apalagi status kita sebagai tourist, sebagai Wools (pendukung LFC yg berasal dari luar kota Liverpool, bahkan luar negeri).
Akhirnya, demi untuk menjalin silaturahmi, JIKA KAMU BERTANYA seperti ini: “Saya pendukung LFC, tapi saya bukan warga kota Liverpool. Apakah saya boleh menyebut diri saya sebagai seorang Liverpudlian?”, maka karena keramahan mereka, para orang kota Liverpool ini akan menjawab: “Oh, tentu saja boleh” untuk menghargai perkenalan kalian. Inilah yang kemudian menyebabkan EVOLUSI BAHASA. Penggemar LFC di Indonesia sangatlah banyak, dan hampir semuanya menyebut mereka sebagai Liverpudlian, dan bukan Kopites. Please jangan menyebut kalian sebagai Wools, secara itu adalah “ejekan tidak langsung”. Dan ditambah pula dengan adanya istilah EVERTONIAN bagi fans Everton FC dikalangan para Liverpudlian (warga kota Liverpool). Akhirnya, penyematan label “Liverpudlian” menjadi sangat maklum dikalangan para tourist. Dalam bahasa sinisnya, para Kopites akan “yaaaaaaaa, yaaaaaaaa, whatever” jika kalian mengaku2 sebagai Liverpudlian (padahal maksudnya adalah sebagai Kopites).
Saking dimaklum-nya, akhirnya menjadi semakin maklum, kesalah-kaprahan semakin berlanjut, dan bahkan “dicantumkan” oleh seseorang (non Scouser) kedalam kamus tak resmi LFC bahwa → Liverpudlian adalah warga kota Liverpool, namun karena ada Evertonian (pendukung EFC), maka Liverpudlian juga dapat bermakna sebagai fans (penggemar) LFC. Ingat, fans … PENGGEMAR, dan bukan seperti KOPITES yang bermakna sebagai SUPPORTER/ pendukung.
Berdasarkan penjelasan tadi, maka kita semua semakin cerdas, sadar, dan mengerti. Ini bukan mengenai “setuju atau tidak setuju”. Ini bukan mengenai “toleransi atau alibi tidak diterima”. Ini mutlak mengenai kebiasaan salah kaprah didalam penggunaan bahasa asing.
Ingat, budaya sepakbola di Inggris JAUUUUUHH melebihi budaya sepakbola di negara lain. Tak perlu disangkal, karena semua orang sudah tau siapakah bangsa pendiri olah raga yang satu ini.
KESALAH-KAPRAHAN PENGGUNAAN BAHASA AKAN TERUS BERLANJUT DAN MENYEBAR, tinggal dari diri kalian, apakah kalian ingin semakin cerdas, atau kalian membandel dan ngotot dan tidak mau semakin mencerahkan pengetahuan.