Jumat, 01 Agustus 2014

WE ARE KOPITES, WE ARE NOT LIVERPUDLIAN !!!!!!!



Ayo dibaca kawan-kawan dari wall grup BIGREDS IOLSC Regional Bandung. Berawal dari postingan teh Dhini Renata yang mengoreksi kesalahan penggunaan istilah Liverpudlian untuk menyebut pendukung LFC, diskusi kemudian berkembang menjadi suatu pembahasan yang menyeluruh tentang kata Liverpudlian itu sendiri. Albert Shadrach, salah seorang member BIGREDS pun urun informasi yang ke
mudian menjadi ide awal dibuatnya dokumen ini. Diharapkan dokumen ini dapat memberikan pengetahuan yang baik bagi anggota grup ini.Berikut adalah kutipan informasi dari bung Albert dengan sedikit penyesuaian alinea :LIVERPUDLIAN ADALAH BERARTI WARGA KOTA LIVERPOOL. Tidak ada satupun quotes/ merchandises/chants/ yells resmi LFC yg menyebutkan kata “Liverpudlian” yang merujuk kepada arti → supporter. Dan supporter LFC disebut KOPITE (dibaca: Kopayt), sedangkan bentuk jamaknya adalah KOPITES (dibaca: Kopayts). Lantas dari manakah semua kesalah-kaprahan ini berasal?
Dalam chant “Poor Scouser Tommy”, ada lyrics: “Oh, I am a Liverpudlian. And I come from The Spion Kop”. Inilah awal mula kesalah-kaprahan tersebut di INDONESIA.
Apa? Di Indonesia?
Ya, benar, hanya di Indonesia saja kita mendengar pendukung LFC menyebut diri Liverpudlian. Di negara lain tak ada yang salah kaprah, mereka menyebut diri mereka KOPITES. Adapun makna dari lyrics tadi: si Tommy ini adalah prajurit Inggris yang dikirim ke Libya saat Perang Dunia II. Dan disetiap Dog Tag akan tertera dari Divisi manakah dia, dan dicantumkanlah bahwa dia berasal dari divisi di kota Liverpool. Itulah sebabnya sebelum tewas, dia berkata bahwa dia adalah seorang Liverpudlian (warga kota Liverpool). Namun, kecintaannya terhadap LFC membuat Tommy yang sedang sekarat pun tetap bangga mengaku sebagai seorang KOPITE (supporter LFC), dengan berkata bahwa dia tak hanya sebagai warga kota Liverpool semata, melainkan dia berasal dari The Spion Kop
The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield yang paling bawel ngchants pada saat itu).
Dengan keterbatasan informasi di Indonesia, terutama di era 1970 – awal 1980 an dimana kaum muda hanya mengenal sepakbola luar negeri melalui Dunia Dalam Berita, dan pertandingan final sepakbola hanya sesekali ditayangkan secara langsung oleh TVRI di pertengahan 1980 an, ditambah dengan lebih mudahnya menghafal kata Liverpudlian (karena memiliki susunan huruf yang mendekati Liverpool) dibandingkan “Kopites”, dan ditambah dengan tingkat kesalah-kaprahan yang tinggi didalam penggunaan kata di masyarakat Indonesia, membuat penyebaran kesalahan makna “Liverpudlian” ini menjadi semakin cepat, dan malah menggeser Kopites sebagai istilah yang benar. Apalagi kemudian diperparah pula dengan watak kita semua yang “udah salah, ngotot pula”. Dan juga watak “membiarkan kesalahan berlanjut karena gak mau repot”, dan juga watak “berkelakar-bercanda diseputar kesalahan”.
Akhirnya pada saat pertengahan 1990 an dimana persaingan TV Swasta mulai merebak, mengakhiri kejayaan tunggal RCTI dengan Decoder-nya, maka muncullah ide untuk menayangkan secara langsung pertandingan sepak bola Liga Inggris oleh salah satu Direktur Utama TV saat itu. Dan si presenter pertandingan di TV Indonesia kerap menyebut kata “Liverpudlian” saat dia berceloteh mengenai supporter LFC.
Pengaruh media sangatlah luas, dan akhirnya mencuci otak para anak muda yang rata2 SMA atau baru masuk kuliah saat era pertengahan 1990 an itu. Mereka2 ini kerap berkumpul sepulang kuliah dan akhirnya semakin meluas pula kesalahan penggunaan kata “Liverpudlian” ini. Saat bertemu orang lain yang menggunakan t-shirt/ atribut LFC, akan dengan ramah disapa: “oh, kamu Liverpudlian juga yah?” yang semakin membuat penggunaan ngaco ini berlanjut. Hingga puncaknya adalah Twitter dimasa kini.
Lantas, dari manakah istilah KOPITES itu berasal?
Ya, tepat. Rujukan kata itu bersumber dari THE KOP, atau The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield). Awalnya, penggunaan istilah Kopites ini disematkan kepada orang2 keturunan Scandinavia, terutama buruh-buruh kapal Norwegia, yang banyak berlabuh di Liverpool. Mereka ini lebih kasar, pemabuk, namun lebih “garis keras” dalam mendukung tim sepakbola (saat itu Everton lebih diminati oleh Liverpudlian — warga kota Liverpool –dibandingkan tim sekota yg baru muncul, LFC). Sedangkan penggunaan istilah The Kop ini bersumber dari penghargaan terhadap prajurit korban Second Boer War, dimana banyak prajurit Inggris yang tewas berasal dari kota Liverpool.
Nah, pada perkembangannya, LFC tampak lebih menarik untuk disimak, sehingga para Liverpudlian (warga kota Liverpool) mulai menyematkan istilah KOPITES kedalam diri mereka, karena mereka turut melebur kedalam suasana mendukung LFC. Dan seiring dengan perjalanan waktu, sejarah demi sejarah ditorehkan oleh LFC, akhirnya muncullah sebutan bagi para supporter LFC yang non – Liverpudlian, bukan warga kota Liverpool, dengan sebutan WOOLS.
Julukan ini “sedikit” bernada merendahkan, dalam artian: Wools hanya bisa mendukung lewat TV di negaranya, tak hadir disetiap pertandingan kandang di Anfield, atau tak nongkrong rutin di THE ALBERT (Pub diseberang The Kop). Para pendukung LFC (Kopites) notabene kini merupakan Liverpudlian (warga kota) dan tak lagi buruh kapal luar negeri, bahkan sebagian besar merupakan SCOUSER (sub-race/ suku bangsa berlogat). Sehingga saat kejayaan LFC berimbas ke dunia luas, maka penggunaan julukan “Wools” bagi supporter LFC non warga kota Liverpool pun semakin luas. DAN JIKA KALIAN MASIH NGOTOT MENGGUNAKAN ISTILAH “LIVERPUDLIAN” saat kalian nanti ke Anfield, maka bersiaplah untuk diejek oleh beberapa oknum Kopites yang mabuk.
Biasanya mereka langsung mengenali kita sebagai tourist (turis), mereka akan ramah menyapa kita, dan jika kalian memang cinta LFC, maka katakanlah: “I am a Liverpool FC Kopite too, by the way”, dan mereka akan semakin ramah dan akrab, menyapamu dengan jawaban: “Oh, so you are a Wool, glad to hear that. It’s ring a bell for sure. Another pin, mate?”.
Tapi bayangkanlah jika kesalah-kaprahan penggunaan “Liverpudlian” ini terjadi, maka mereka akan langsung mengenali logat English kalian yang jelas2 sangat tidak ber-scouser, dan mereka (jika mabuk) akan mengejekmu meminta kalian mengeluarkan ID Card (Kartu Tanda Penduduk) kota Liverpool.
Kesalahkaprahan penggunaan kata didalam bahasa Indonesia, dan serapan bahasa asing kedalam Bahasa Indonesia sangatlah mudah ditolerir. Dan sebagai sesama KOPITES, tentunya para Liverpudlian (warga kota Liverpool) — jika bukan oknum yang sedang mabuk — akan melayani kita dengan ramah, apalagi status kita sebagai tourist, sebagai Wools (pendukung LFC yg berasal dari luar kota Liverpool, bahkan luar negeri).
Akhirnya, demi untuk menjalin silaturahmi, JIKA KAMU BERTANYA seperti ini: “Saya pendukung LFC, tapi saya bukan warga kota Liverpool. Apakah saya boleh menyebut diri saya sebagai seorang Liverpudlian?”, maka karena keramahan mereka, para orang kota Liverpool ini akan menjawab: “Oh, tentu saja boleh” untuk menghargai perkenalan kalian. Inilah yang kemudian menyebabkan EVOLUSI BAHASA. Penggemar LFC di Indonesia sangatlah banyak, dan hampir semuanya menyebut mereka sebagai Liverpudlian, dan bukan Kopites. Please jangan menyebut kalian sebagai Wools, secara itu adalah “ejekan tidak langsung”. Dan ditambah pula dengan adanya istilah EVERTONIAN bagi fans Everton FC dikalangan para Liverpudlian (warga kota Liverpool). Akhirnya, penyematan label “Liverpudlian” menjadi sangat maklum dikalangan para tourist. Dalam bahasa sinisnya, para Kopites akan “yaaaaaaaa, yaaaaaaaa, whatever” jika kalian mengaku2 sebagai Liverpudlian (padahal maksudnya adalah sebagai Kopites).
Saking dimaklum-nya, akhirnya menjadi semakin maklum, kesalah-kaprahan semakin berlanjut, dan bahkan “dicantumkan” oleh seseorang (non Scouser) kedalam kamus tak resmi LFC bahwa → Liverpudlian adalah warga kota Liverpool, namun karena ada Evertonian (pendukung EFC), maka Liverpudlian juga dapat bermakna sebagai fans (penggemar) LFC. Ingat, fans … PENGGEMAR, dan bukan seperti KOPITES yang bermakna sebagai SUPPORTER/ pendukung.
Berdasarkan penjelasan tadi, maka kita semua semakin cerdas, sadar, dan mengerti. Ini bukan mengenai “setuju atau tidak setuju”. Ini bukan mengenai “toleransi atau alibi tidak diterima”. Ini mutlak mengenai kebiasaan salah kaprah didalam penggunaan bahasa asing.
Ingat, budaya sepakbola di Inggris JAUUUUUHH melebihi budaya sepakbola di negara lain. Tak perlu disangkal, karena semua orang sudah tau siapakah bangsa pendiri olah raga yang satu ini.
KESALAH-KAPRAHAN PENGGUNAAN BAHASA AKAN TERUS BERLANJUT DAN MENYEBAR, tinggal dari diri kalian, apakah kalian ingin semakin cerdas, atau kalian membandel dan ngotot dan tidak mau semakin mencerahkan pengetahuan.

Kamis, 31 Juli 2014


SEJARAH LIVERPOOL

Liverpool Football Club (dikenal pula sebagai Liverpool atau The Reds) adalah sebuah klub sepak bola peserta Liga Utama Inggris. Liverpool adalah klub tersukses dalam sejarah persepakbolaan Inggris yang bermarkas di kotaLiverpool. Liverpool telah memenangkan 5 trofi Liga Champions (dulu Piala Champions), yang merupakan rekor Inggris.18 gelar Liga Inggris, 7 Piala FA, serta, 7 kali juara Piala Liga. Stadion mereka berada di Anfield, yang terletak sekitar 4,8 km dari pusat kota Liverpool.
Sejarah
Kejayaan Liverpool bersama Bill Shankly dilanjutkan Bob Paisley yang pada saat itu berusia 55 tahun. Dia menjabat sebagai manajer Liverpool FC dari tahun 1974 sampai 1983 dan hanya pada awal tahun Bob Paisley tidak dapat memberikan gelar untuk Liverpool FC. Selama 9 tahun Bob Paisley menjabat sebagai manajer Liverpool FC, beliau memberikan total 21 tropi, termasuk 3 Piala Champion, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris dan 3 Piala Liga secara berturut-turut. Dengan semua gelar itu tidak salah bila Bob Paisley menjadi manajer tersukses yang pernah menangani klub Inggris. Tidak hanya sukses memberikan gelar untuk Liverpool FC, tetapi Bob Paisley juga sukses dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool FC dengan tampilnya para bintang muda seperti: Graeme Souness, Alan Hansen, Kenny Dalglish dan Ian Rush. Walaupun Bob Paisley akan mewariskan sebuah skuat muda yang sangat hebat dan berbakat, tetapi dengan semua torehan gelar itu akan menjadi sangat berat buat siapapun penerusnya.
Sebagai penerus Bob Paisley yang pensiun di tahun 1983, Joe Fagan yang pada saat itu berusia 62 tahun, berhasil mempersembahkan treble buat Liverpool yaitu juara Liga, juara Piala Liga dan juara Piala Champion. Raihan ini menjadikan Liverpool FC sebagai klub sepakbola Inggris yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi. Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden di stadion Heysel. Insiden yang terjadi sebelum pertandingan final Piala Champion antara Liverpool FC dan Juventus ini menewaskan 39 orang, sebagian besar adalah pendukung Juventus. Insiden ini mengakibatkan pelarangan bagi semua klub sepakbola Inggris untuk berkompetisi di Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang mengikuti semua kompetisi Eropa selama 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi 6 tahun.
Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish, Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA pada musim kompetisi 1985/86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu. Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forrest tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun. Akibat Tragedi Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai faktor keamanan stadion sepakbola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak keamanan. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri. Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough, 'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi dirinya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 beliau mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia sepakbola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris. Alasan yang disebutkan oleh Kenny Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme Souness sebagai manajer berikutnya. 'King' Kenny Dalglish kemudian dikenang sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain maupun manajer.
Perginya 'King' Kenny Dalglish dan 2 tragedi yang mengerikan ( Heysel dan Hillsborough ) sepertinya memberikan trauma, hukuman atau kutukan yang mendalam bagi Liverpool Football Club. Kedatangan Graeme Souness pun tidak mengubah peruntungan Liverpool FC. Walaupun Souness bisa memberikan gelar Piala FA pada tahun 1992, tetapi dengan kebijakan transfer pemain yang kurang baik dan penerapan strategi yang sedikit membingungkan menjadikan Liverpool tampil tidak konsisten pada musim itu. Hal lain yang memperburuk hubungan Souness dan Liverpudlian adalah ketika Souness menceritakan proses pemulihan kesehatannya pasca operasi jantung kepada koran The Sun. Seperti diketahui bahwa masyarakat di Merseyside memboikot koran The Sun yang sering memojokkan Liverpudlian mengenai tragedi Hillsborough. Pada 28 Januari 1994 Graeme Souness akhirnya mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool FC setelah tersingkir dari Piala Liga dan Piala FA. Pelatih Roy Evans ditunjuk sebagai manajer Liverpool FC selanjutnya. Liverpool FC berada di urutan ke 8 klasemen hasil terburuk selama 29 tahun terakhir. Walaupun secara raihan gelar juara Graeme Souness tidak sukses, tetapi pada masa kepemimpinannya banyak lahir talenta muda diantaranya : Robbie Fowler, Steve McManaman, Jamie Redknapp, Rob Jones dan David James.
Manajer Liverpool selanjutnya adalah pelatih senior Roy Evans yang sudah bersama Liverpool FC selama lebih dari 30 tahun. Pada musim 1994/95 Liverpool menduduki peringkat 5 Liga Primer Inggris dan berhasil menjuarai Piala Liga dengan mengalahkan Bolton Wanderers dengan skor 2-1. Roy Evans berhasil mengembalikan ciri khas permainan Liverpool yaitu 'pass and move'. Tetapi permainan apik dan indah Liverpool FC pada masa ini tidak diimbangi determinasi dan agresifitas yang memadai dari para pemainnya, sehingga Liverpool pada masa Roy Evans sering disebut 'Spice Boys'. Selain semakin matangnya pemain seperti : Robbie Fowler, Steve McManaman dan Jamie Redknapp, pada masa kepelatihan Roy Evans muncul bakat muda bernama Michael Owen yang berhasil mencetak 18 gol dan menjadi PFA Young Player of the Year Award pada tahun 1998.
Pada musim kompetisi 1998/99 Liverpool FC menarik pelatih asal Prancis Gerard Houllier untuk berpartner dengan Roy Evans sebagai 'joint manager'.  Pada tahun ini Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga, Piala FA, Piala UEFA, Piala Charity Shield dan Piala Super UEFA. Keberhasilan ini memunculkan secercah harapan bagi Liverpool untuk dapat meraih gelar juara Liga Inggris yang terakhir diraih pada tahun 1990. Pada tahun 2003 Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga dan menduduki peringkat ke 4 pada musim 1993/94 sehingga berhak mengikuti kualifikasi Liga Champions. Walaupun berhasil memberikan sejumlah gelar buat Liverpool FC, tetapi taktik bertahan yang diterapkan Gerard Houllier dianggap tidak bisa bersaing untuk meraih gelar Liga Inggris. Taktik bertahan dan mengandalkan serangan balik sangat mudah diantisipasi oleh lawan, sehingga pada 24 Mei 2004 Gerard Houllier digantikan oleh Rafael Benitez.
Rafael Benitez datang ke Liverpool FC setelah berhasil membawa Valencia menjadi juara Liga Spanyol 2 kali dan juara Piala UEFA. Harapan Liverpudlian untuk menjadi juara Liga Inggris kembali membumbung tinggi setelah Benitez berhasil membawa Liverpool FC menjuarai Liga Champions untuk yang ke 5 kalinya. Pada final yang dikenang sebagai partai terhebat sepanjang masa, Liverpool FC berhasil mengalahkan AC Milan setelah tertinggal 0-3 di babak pertama. Tetapi gol dari kapten Steven Gerrard, Vladimir Smicer dan penalti Xabi Alonso berhasil membawa Liverpool FC ke babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Kiper Liverpool FC Jerzy Dudek menjadi pahlawan setelah berhasil menahan tendangan penalti Shevchenko. Kemenangan pada partai final Liga Champions inilah yang menjadi alasan kapten dan legenda hidup Liverpool FC Steven Gerrard untuk tidak pindah ke klub lain. Keputusan yang disambut gembira oleh para Liverpudlian. Liverpool FC kemudian dibawa Rafael Benitez untuk menjadi juara Piala Super Eropa dengan mengalahkan juara Piala UEFA CSKA Moskow dengan skor 3-1. Piala FA tahun 2006 menjadi piala terakhir yang dipersembahkan oleh Rafael Benitez untuk Liverpool FC. Dalam perjalanan menuju final piala FA, Liverpool FC mengalahkan Luton Town dengan skor 5-3, MU 1-0, Birmingham City 7-0 dan mengalahkan Chelsea 2-1 di semi-final. Di partai final Liverpool FC berhasil mengalahkan West Ham United dengan Steven Gerrard sebagai Man Of The Match. Steven Gerrard memberi umpan untuk gol pertama, melakukan tendangan voli untuk gol ke 2 dan melakukan tendangan jarak jauh yang fenomenal pada menit ke 91. Dengan skor 3-3 akhirnya pertandingan dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Walaupun selama pertandingan kiper Pepe Reina beberapa kali melakukan kesalahan fatal, tetapi pada saat adu penalti berhasil menahan 3 dari 4 tendangan pemain West Ham United. Final Piala FA ini disebut sebagai 'Final-nya Gerrard' dan dicatat sebagai partai final terbaik di era modern Piala FA. Setelah memenangi Piala Community Shield tahun 2006 dan berhasil mencapai final Liga Champions 2007, musim-musim berikutnya menjadi musim tanpa gelar bagi Rafael Benitez dan Liverpool FC. Satu-satunya kabar yang menggembirakan bagi Liverpudlian adalah kembalinya 'King' Kenny Dalglish untuk membidani Liverpool FC Youth Academy pada tahun 2009. Akhirnya Rafael Benitez berhaenti pada tanggal 3 Juni 2010 dan digantikan oleh Roy Hodgson. Pada masa kepemimpinan Rafael Benitez, Liverpool FC mengalami 2 kali peralihan kepemilikan klub. Yang pertama pada tahun 2007 ketika dibeli oleh George Gillett and Tom Hicks dan pada tahun 2010 ketika Liverpool FC di ambil alih New England Sports Ventures milik John W. Henry.
1 Juli 2010 Roy Hodgson resmi menangani Liverpool FC selama tiga tahun. Pada keterangan pers Roy Hodgson mengatakan sangat bangga bisa menangani klub sebesar Liverpool FC dan tidak sabar untuk bertemu dengan para pemain, Liverpudlian dan ingin segera bekerja di Melwood. Tetapi situasi di Liverpool FC pada saat itu masih sangat tidak menentu karena sedang dalam masa peralihan kepemilikan. Hiruk pikuk berita tentang kebangkrutan klub dan proses peralihan yang berkepanjangan sangat memengaruhi suasana di Liverpool FC pada saat itu. Liverpool FC pun akhirnya mengawali musim 2010/11 dengan sangat buruk. Sampai pertengahan bulan Oktober Liverpool FC berada di zona degradasi dan kalah dari klub divisi II Northampton Town.
Tepatnya 8 Januari 2011 'King' Kenny Dalglish resmi menjabat sebagai manajer Liverpool FC untuk yang ke 2 kalinya.



Lambang
Lambang 'Liver Bird' pertama kali muncul di seragam Liverpool FC pada partai final Piala FA tahun 1950. Lambang yang secara signifikan telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Liverpool FC. Lambang Liverpool ini mengalami perubahan pertama pada musim kompetisi 1955/56 dimana gambar 'Liver Bird' berada di dalam lingkaran ouval dan tulisan L.F.C berada di bawah 'Liver Bird'. Lambang versi ini bertahan sampai tahun 1968.
Pada tahun 1968 diambil keputusan untuk memperkenalkan lambang klub yang lebih modern. Lambang 'Liver Bird' langsung disulam ke seragam pemain dengan menyingkirkan garis pijakan pada kaki 'Liver Bird' dan menghilangkan lingkaran ouval. Lambang ini bertahan sampai tahun 1987, dimana pada tahun 1985 sponsor seragam berubah dari UMBRO kepada ADIDAS.
Seiring dengan perubahan sponsor seragam, maka lambang Liverpool pada tahun 1987 mengalami perubahan yang ke 3. Lambang 'Liver Bird' kembali berada di dalam tameng seperti lambang Liverpool FC yang pertama, tetapi kali ini penulisan Liverpool Football Club di bawah 'Liver Bird' tidak di singkat. Lambang ini bertahan sampai tahun 1992, dimana Liverpool FC akan mengadakan perayaan hari jadi yang ke 100 tahun.
Untuk merayakan 100 tahun Liverpool FC, lambang klub mengalami perubahan yang cukup signifikan. Penambahan ornamen 'Shankly Gates' dengan tulisan 'You'll Never Walk Alone' di atas tameng 'Liver Bird' dimaksudkan untuk mengingatkan jasa manajer Bill Shankly yang telah menjadi pondasi kokoh bagi Liverpool FC. Di dalam tameng terdapat tulisan Liverpool Football Club 100 tahun dan lambang 'Liver Bird'. Kemudian di bawah tameng ada tulisan angka 1892-1992.
Tahun 1993 lambang klub kembali berubah dengan penambahan kobaran api kembar di kedua sisi tameng 'Liver Bird'. Kobaran api kembar ini untuk mengenang para Liverpudlian yang menjadi korban pada tragedi Hillsborough. Lambang Liverpool terakhir ini tidak banyak mengalami perubahan sampai dengan tahun 1999. Lambang Liverpool FC yang sekarang ini dibuat pada tahun 1999 hanya dengan komposisi 2 warna. Tetapi sejak tahun 2002, lambang Liverpool FC dibuat dengan 'full colour' seperti sekarang ini.
Pemasok Kostum
  • 1973–1985: Umbro
  • 1985–2006: Reebok
  • 2006–2012: Adidas
  • 2012–: Warrior
Pemasok Sponsor
  • 1892–1979: Tanpa sponsor
  • 1979–1981: Hitachi
  • 1981–1989: Crown Paints
  • 1989–1992: Candy
  • 1992–2010: Carlsberg
  • 2010–2014: Standard Chartered
[sunting]Era keemasan
Liverpool sangat dominan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Pemain-pemain yang terkenal pada masa ini termasuk Ray Clemence, Mark Lawrenson, Graeme Souness, Ian Callaghan, Phil Neal, Kevin Keegan, Alan Hansen, Kenny Dalglish (102 cap), dan Ian Rush (346 gol)
Liverpool meraih era terbaiknya saat masih dikepalai oleh Bill Shankly. Pelatih ini kemudian menjadi legenda Liverpool. Ia sangat dihormati karena berhasil membawa Liverpool kembali ke divisi satu setelah sebelumnya mendekap di divisi dua selama 8 musim. Untuk menghormati jasanya, dibuatlah patung Bill Shankly di pintu masuk Anfield.
[sunting]Tragedi
Klub ini juga terlibat dalam dua tragedi besar dalam sepak bola Eropa, yaitu dalam Tragedi Heysel pada 1985 dan Tragedi Hillsborough pada1989. Tragedi Heysel mengakibatkan klub-klub dari Inggris dilarang tampil di ajang kejuaraan Eropa selama 5 tahun.
Treble
Liverpool berhasil mendapatkan treble winner, Liverpool mendapatkan dua gelar domestik (Piala Liga dan Piala FA) dan Piala UEFA pada musim 2000/01. Meskipun begitu, memenangi treble bukanlah hal yang baru bagi mereka. Pada 1984 mereka menjadi juara Piala Champions, Piala Liga dan Liga Inggris.
Skuat

Tim utama
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional pemain sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat saja mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan.
Squad no. Name Nationality Position Date of birth (age)
Goalkeepers
1 Brad Jones Australia GK 19 March 1982 (age 32)
22 Simon Mignolet Belgium GK 6 March 1988 (age 26)
25 Pepe Reina Spain GK 31 August 1982 (age 31)
Defenders
2 Glen Johnson England RB/LB 23 August 1984 (age 29)
3 José Enrique Spain LB 23 January 1986 (age 28)
4 Kolo Touré Ivory Coast CB 19 March 1981 (age 33)
5 Daniel Agger (VC) Denmark CB 12 December 1984 (age 29)
6 Dejan Lovren Croatia CB 5 July 1989 (age 25)
16 Sebastián Coates Uruguay CB 7 October 1990 (age 23)
17 Mamadou Sakho France CB 13 February 1990 (age 24)
26 Tiago Ilori Portugal CB 26 February 1993 (age 21)
34 Martin Kelly England CB/RB 27 April 1990 (age 24)
37 Martin Škrtel Slovakia CB 15 December 1984 (age 29)
38 Jon Flanagan England RB/LB 1 January 1993 (age 21)
44 Brad Smith England LB 9 April 1994 (age 20)
49 Jack Robinson England LB 1 September 1993 (age 20)
Midfielders
8 Steven Gerrard (C) England DM/CM/AM 30 May 1980 (age 34)
10 Philippe Coutinho Brazil AM/LW 12 June 1992 (age 22)
11 Oussama Assaidi Morocco LW/RW 15 August 1988 (age 25)
14 Jordan Henderson England DM/CM/AM 17 June 1990 (age 24)
20 Adam Lallana England AM/LW 10 May 1988 (age 26)
21 Lucas Leiva Brazil DM/CM 9 January 1987 (age 27)
23 Emre Can Germany DM/CM 12 January 1994 (age 20)
24 Joe Allen Wales DM/CM 14 March 1990 (age 24)
30 Suso Spain LW/RW/AM 19 November 1993 (age 20)
31 Raheem Sterling England LW/RW/AM 8 December 1994 (age 19)
33 Jordon Ibe England LW/RW/AM 8 December 1995 (age 18)
35 Conor Coady England DM/CM 25 February 1993 (age 21)
53 João Carlos Teixeira Portugal LW/RW/AM 18 January 1993 (age 21)
50 Lazar Marković Serbia LW/RW/AM 2 March 1994 (age 20)
Forwards
9 Rickie Lambert England ST 16 February 1982 (age 32)
15 Daniel Sturridge England ST 1 September 1989 (age 24)
29 Fabio Borini Italy ST 29 March 1991 (age 23)
Dipinjamkan

Start date End date Position No. Player To club Ref.
26 June 2014 30 June 2015 LW/AM/RW - Spain Luis Alberto Spain Málaga [8]
21 July 2014 30 June 2015 ST - Spain Iago Aspas Spain Sevilla [9]
22 July 2014 30 June 2015 CB/RB 47 England Andre Wisdom England West Bromwich Albion [10]
29 July 2014 30 June 2015 FW - Belgium Divock Origi France Lille [6]

Staff Teknis
  • Manager: Brendan Rodgers
  • Assistant Manager: Colin Pascoe
  • First Team Coach: Mike Marsh
  • Goalkeeping Coach: John Achterberg
  • Performance Analyst: Glen Driscoll
  • Fitness and Conditioning Analyst: Ryland Morgans
  • Opposition Analyst: Chris Davies
  • Director of Player Development/Academy Manager: vacant
  • Head of Academy Coaching: vacant
  • U21's Manager: Alex Inglethorpe
  • First Team Doctor: Zaf Iqbal
  • Physiotherapist: Chris Morgan